Nona, sadar ataupun tidak, kau telah berhasil membuat aku seorang kelana tersesat di dalam rimbaan matamu yang bersahaja itu. Bukannya aku tak pernah tau arah jalan untuk keluar dan pulang ke pangkuan diri sendiri yang sepi nan sunyi ini, namun harap memang selalu bertambah kuat dalam berpijak. Harapku; aku tersesat dimatamu, dan ingin terus tersesat.
Sial memang bagi sesiapun yang tengah berjalan di atas prosesnya. Sesiapapun yang tengah berjalan itu sewaktu-waktu bisa saja jatuh ataupun seketika mati tanpa duka dan luka yang tertangkap indra. Namun alangkah berbahagianya bagi sesiapapun itu yang mampu bertahan dan terus berjalan meski tombak-tombak nestapa terhunus menembus dada, menjadikan luka tanpa darah dan tangis tanpa air mata. Sebab semakin terjal proses yang ia pijak, maka semakin indah juga hasil yang akan ia tuai di akhir jalan.
Dan ketika aku memilih untuk tetap tabah berjalan di atas prosesku ini, tiba-tiba waktu membangunkanku dari mimpi dan harapan yang semakin mengakar. Tabir kenyataan tanpa benteng atau menara gading yang menghadang harapan, aku rasa kini semakin tinggi menjulang menyentuh lapisan langit tanpa nama di cakrawala. Pilihanku hanya dua. Pertama; terus berjalan di atas proses, meski tabir kenyataan harus aku dobrak hingga maut tak lagi mau menunggu untuk menjemput. Dan yang kedua; berhenti lalu pergi menjauh demi senyum yang tersirat di wajah hari kembali pulih tanpa harus menyeka awan-awan berkabung di tepiannya.
Nona, berhenti bukan berarti melarikan diri atau tak mau menunggu sampai waktu datang dengan bahagia yang pasti, tapi terkadang bijaksana hati ini tau kapan waktunya untuk mengakhiri tanpa meski tau kapan lagi harus memulai kembali.
Sebab Nonaku, Pergi bukan berarti takan kembali. Aku yakin bahwa setiap pulang adalah untuk pergi lagi, dan setiap langkah pergi adalah untuk kembali lagi. Berlabuh, berlayar, pulang, dan pergi pada sesiapa saja yang sudi menyimpanku dalam ingatannya.
Musabab setiap detik yang terlewati bagiku adalah sejarah, maka selamat datang di goresan sejarahku yang tak begitu menakjubkan ini. Selamat membaca dan menikmat setiap torehan aksara yang telah kurangkai menjadi kata demi kata sederhana.
Minggu, 03 September 2017
Pergi Untuk Pulang, Dan Pulang Untuk Pergi Lagi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar