Selasa, 12 September 2017

Kau Langit

Seindah rona jingganya senja, semenakjubkannya kilauan aurora, ataupun sehangat pendarnya fajar pagi tak akan pernah menjadi apa-apa tanpa peran Langit yang membentang luas hingga saujana cakrawala. Sebab segala warna tak akan pernah menjadi indah, tanpa adanya kanvas yang menampung segala goresan warna menjadi sebentuk estetika nan indah. Dan Sang Langit berperan sempurna sebagai kanvas bagi semesta melukiskan segala keindahannya.

Lalu di kaki Langit, Bumi berpijak dengan wajah yang senantiasa tersenyum tabah. Menjadi pecinta yang menengadah, menatap segala keindahan yang tergores di bentangan Langit yang dicintainya. Sungguh Bumi selalu sudi untuk tabah, menampung kesedihan dan deraian air mata Langit yang berupa hujan. Dan begitupun Bumi bahkan jauh lebih sudi untuk sumbringah, merekam kebahagiaan dan senyuman Langit yang berupa segala pendar nan indahan.

Musabab semua itu Nona, biarlah Kau menjadi Langit. Kanvas bagi segala keindahan terlukis di permukaannya. Dan aku, biarlah Aku menjadi Bumi. Yang mencintai Langit, dan selalu sudi untuk membendung deraian air matanya yang berupa hujan, ataupun merekam senyumannya yang berupa segala pendar nan indah itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar